Jual Beli dengan Sistem DP atau Down Payment, Simak Plus Minusnya

Share this Post

dp atau down payment

Table of Contents

Dalam jual beli, terkadang dilakukan dengan menggunakan sistem DP atau Down Payment. Apa itu Down Payment?

Dikutip dari laman Investopedia, Down Payment atau yang biasa disebut sebagai DP adalah sejumlah uang yang dibayarkan pembeli pada tahap awal pembelian barang atau jasa yang mahal.

Biasanya, uang muka ini mewakili sebagian dari total harga pembelian. Kemudian, pelanggan akan mencicil untuk melunasi sisanya secara bertahap selama kurun waktu tertentu.

Tak jarang, sisa pembayaran dilakukan dengan cara mengambil pinjaman. Oleh karena itu, semakin besar uang muka yang dibayarkan, akan semakin sedikit pinjaman yang akan diambil oleh pembeli.

Semakin sedikit pula jumlah pembayaran bulanan mereka, dan semakin sedikit bunga yang harus dibayar dalam jangka panjang.

DP merupakan biaya yang termasuk dalam harga pembelian. Jadi, bukan uang yang dibayarkan secara terpisah dari total harga beli.

Mari simak penjelasan seputar DP Down Payment melalui artikel berikut.

Baca Juga: 4 Tips Menggunakan Kartu Kredit untuk Modal Usaha

Penjelasan DP dalam Hukum Indonesia

DP dalam hukum indonesia
Foto timbangan sebagai simbol hukum. Sumber: Pexels.com

Sistem jual beli yang dilakukan dengan pembayaran uang muka telah diatur dalam hukum Indonesia.

Jadi, transaksinya sah di mata hukum sehingga penyedia kredit dan pelanggan dilindungi.

Peraturan hukum ini juga berguna sebagai panduan setiap penjual dalam melakukan transaksi jual beli dengan sistem uang muka.

Dalam hukum Indonesia, DP Down Payment disebut sebagai uang panjar.

Menurut pasal 1464 KUHPerdata, jual beli dengan sistem panjar merupakan suatu jual beli yang diadakan antara penjual dan pembeli.

Di dalam jual beli ini, pihak pembeli menyerahkan uang panjar atas harga barang, sesuai kesepakatan kedua belah pihak.

Pada sistem jual beli ini, salah satu pihak tidak dapat meniadakan pembelian itu dengan menyuruh memiliki atau mengembalikan uang panjarnya.

Maka dari itu, semua cicilan harus dilunasi tepat waktu. Jika tidak, DP bisa hangus. Hal ini pada akhirnya akan merugikan pihak penjual maupun pembeli.

DP tidak bisa dibayarkan penuh atau sebagian kepada pembeli yang telah melewati batas kredit, karena melanggar pasal 1464 KUHPerdata.

Pihak penjual pun berhak melayangkan gugatan sebagaimana ketentuan dalam Pasal 1243 KUH Perdata yang berbunyi:

“Penggantian biaya, kerugian dan bunga karena tak dipenuhinya suatu perikatan mulai diwajibkan, bila debitur, walaupun telah dinyatakan Ialai, tetap Ialai untuk memenuhi perikatan itu, atau jika sesuatu yang harus diberikan atau dilakukannya hanya dapat diberikan atau dilakukannya dalam waktu yang melampaui waktu yang telah ditentukan.”

Baca Juga: Ketahui 7 Jenis Pinjaman Modal Usaha dan Tips Memilihnya

Perbedaan Down Payment dan Termin

beda dp dan termin
Foto pembayaran non-tunai. Sumber: Pexels.com

Selain Down Payment, istilah yang cukup umum lainnya dalam sebuah transaksi jual beli adalah termin.

Tak sedikit pula orang yang cukup bingung dengan kedua istilah ini. Oleh karena itu, penting bagi kamu untuk memahami perbedaan DP dengan termin.

Sebenarnya, perbedaan DP dan termin yang paling mencolok terletak dari waktu serah terima barang.

Pada pembayaran uang muka, barang yang dibeli belum diserahkan kepada pelanggan.

Sementara termin, berlaku setelah barang diserahkan dari penjual kepada pembeli. Usai membayar dan menerima bayar, ini bisa disebut sebagai termin pertama.

Selain itu, perbedaan DP dan termin bisa dilihat dari cara pembayarannya.

DP umumnya dibayar secara tunai di awal waktu pembelian sebuah barang dan hanya dilakukan satu kali.

Sedangkan termin dibayar dengan cara bertahap atau menggunakan sistem cicilan hingga beberapa kali sesuai ketentuan dan kesepakatan. Maka, ada istilah termin 1, termin 2, termin 3, dan seterusnya.

Baca Juga: Bagaimana Alur Penjualan Kredit? Ketahui Tata Cara dan 6 Tips Mengontrolnya

Jenis-jenis DP Down Payment

jenis-jenis down payment
Foto jual beli rumah. Sumber: Pexels.com

Umumnya, jenis DP dibagi menjadi dua, yakni:

  • Down Payment Rumah

Seperti yang telah diketahui, DP biasa digunakan untuk membeli barang atau aset yang memiliki harga jual tinggi. Salah satunya properti, seperti rumah untuk tempat tinggal.

Untuk membeli hunian, dibutuhkan dana yang cukup. Tentu saja, uang yang perlu dipersiapkan tidaklah sedikit.

Oleh sebab itu, biasanya rumah dijual dengan menggunakan sistem DP Down Payment.

Biasanya, besaran DP yang akan diminta oleh penyedia properti adalah 10-20% dari total harga rumah tersebut.

Semakin besar jumlah uang muka yang dibayarkan, maka akan semakin kecil jumlah bunga dan waktu cicilannya.

Ketika waktu pembayaran cicilan terlalu lama, besaran bunga yang dikenakan bisa semakin besar tanpa disadari. Pada akhirnya, uang yang harus dibayarkan untuk melunasi pembayaran pun semakin banyak.

  • Down Payment Kendaraan

Selain rumah, sistem uang muka juga biasanya berlaku untuk membeli kendaraan. Entah itu kendaraan bermotor atau pun mobil.

Pada tanggal 1 Maret-31 Desember 2021 lalu, Bank Indonesia menerbitkan peraturan mengenai pelonggaran uang muka hingga 0% untuk kendaraan guna mendorong pertumbuhan kredit di sektor otomotif.

Hingga tahun 2022 ini, kebijakan tersebut diperpanjang. Namun, ada syarat dan ketentuan khusus yang harus dipatuhi oleh pelanggan agar bisa mendapatkan DP 0%

Biasanya, besaran down payment yang diberlakukan untuk kendaraan beroda dua atau bermotor paling sedikit 10% hingga 15%. Sementara kendaraan beroda empat atau mobil adalah 30-40%.

Baca Juga: Jenis-Jenis Anggaran Perusahaan yang Perlu Kamu Pahami

Keuntungan Sistem Down Payment

keuntungan DP down payment
Foto jual beli mobil. Pexels.com

Uang muka dapat dibayarkan dengan jumlah kecil dan besar, tergantung pada kesepakatan dari kedua belah pihak dalam transaksi.

Berikut keuntungan sistem pembayaran di muka, baik DP dalam jumlah besar maupun kecil:

Keuntungan Down Payment Besar

Ini dia berbagai keuntungan pembayaran uang muka dalam jumlah besar:

1. Tingkat Bunga Rendah

Dengan uang muka yang besar di awal pembayaran, maka suku bunga yang akan kamu dapatkan cenderung lebih rendah, lho.

DP besar akan membuat jumlah pinjaman kamu semakin sedikit. Jadi, tingkat bunga yang akan dibayarkan menjadi lebih rendah secara otomatis.

Suku bunga yang rendah juga bisa kamu dapatkan jika jangka waktu pelunasan yang diambil sedikit.

Sebaliknya, waktu cicilan yang lebih lama dapat menyebabkan besaran bunga semakin tinggi.

2. Cicilan yang Dibayarkan Rendah

Dengan membayar DP besar saat membeli barang, jumlah cicilan setiap bulannya pun jauh lebih rendah, lho.

Hal ini karena kamu telah membayar harga barang dengan jumlah besar. Jadi, jumlah pembayaran yang harus dilunasi semakin sedikit.

Tanggungan kamu untuk membayar cicilan tersebut pun akan semakin ringan, jika berani membayar DP besar di awal pembelian.

Baca Juga: Bagaimana Alur Penjualan Kredit? Ketahui Tata Cara dan 6 Tips Mengontrolnya

3. Tingkat Kepercayaan dari Pemberi Kredit Lebih Tinggi

Keuntungan lain dari membayar uang muka berjumlah besar, yakni bisa memengaruhi tingkat kepercayaan dari pemberi kredit.

Dikutip dari the balance, uang muka yang besar memudahkan peminjam dalam memenuhi syarat untuk pinjaman tambahan di masa depan.

Hal ini bisa membuat kreditur memiliki penilaian positif terhadap peminjam. Mereka akan tahu bahwa peminjam mampu melakukan pembayaran.

Jadi, proses peminjaman lain bisa didapatkan jauh lebih mudah melalui track record seperti ini.

Keuntungan Down Payment Kecil

Sementara itu, keuntungan uang muka yang kecil, yaitu:

1. Mendapatkan Barang Lebih Cepat

Apabila kamu membayarkan uang muka dalam jumlah rendah di awal, maka proses mendapatkan barang akan lebih cepat.

Hal ini sangat menguntungkan jika pelanggan tidak memiliki dana yang belum cukup. Mereka tetap bisa memeroleh barang yang diinginkan tanpa perlu menyetor lebih banyak uang.

2. Sisa Uang dapat Digunakan untuk Keperluan Lain

Ketika kamu hanya perlu mengeluarkan uang muka yang sedikit untuk membeli rumah atau kendaraan, masih ada sisa uang yang bisa digunakan.

Misalnya, sisa uang tersebut dapat dipakai untuk memiliki asuransi kendaraan. Bisa juga digunakan untuk merenovasi rumah.

Kamu pun bisa menabung sambil berjalan untuk dapat membayarkan cicilannya.

Baca Juga: Jenis-Jenis Kredit Bank, Ini Kegunaan dan Jangka Waktunya

3. Cicilan Sesuai Kemampuan

Dengan uang muka kecil, besaran cicilan yang dibayarkan setiap bulan pun dapat disesuaikan.

Kamu bisa membayar sisa dari total harga barang dengan lebih ringan sesuai kemampuan. Jadi, tidak merasa terlalu terbebani saat menyelesaikan tanggung jawab pinjaman.

Kekurangan Sistem Down Payment

kekurangan down payment
Foto jual beli motor. Sumber: Pexels.com

Meski menguntungkan, jual beli dengan sistem Down Payment juga memiliki beberapa kekurangan, di antaranya:

  • Kekurangan Down Payment Besar

Ketika kamu membeli rumah atau kendaraan dengan uang muka besar, bisa saja uang tabunganmu langsung terkuras habis.

Kamu mungkin tidak akan memiliki uang sisa untuk keperluan lainnya.

Jadi, harus mengumpulkan uang lebih banyak lagi apabila memiliki kebutuhan tambahan.

  • Kekurangan Down Payment Kecil

Saat membeli barang dengan DP kecil, kamu memang akan mendapatkannya dengan lebih cepat, akan tetapi besaran cicilan jauh lebih tinggi.

Hal ini karena uang yang kamu bayar untuk membeli barang baru sedikit. Secara otomatis, sisa pinjaman kamu pun akan lebih besar.

Selain itu, DP kecil cenderung memiliki tingkat bunga yang lebih tinggi. Jadi, uang yang akan kamu keluarkan bisa bertambah hingga berkali-kali lipat.

Membeli rumah atau kendaraan dengan uang muka kecil juga biasanya memiliki jangka waktu pinjaman yang lebih lama.

Kamu pun bisa merasa kelelahan karena harus terus membayar cicilan yang tak kunjung lunas.

Dengan riwayat hutang yang masih berjalan seperti ini, kamu juga akan lebih sulit untuk mendapatkan pinjaman lain.

Sebab, bank atau perusahaan kredit baru akan memberi pinjaman setelah kewajibanmu sebelumnya bisa dilunasi.

Baca Juga: Piutang Usaha: Pengertian, Jenis, dan Fungsinya

Syarat-syarat Down Payment

syarat DP
Foto kesepakatan jual beli. Sumber: Pexels.com

Untuk mendapatkan barang dengan sistem pembayaran uang muka, tentu ada syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi oleh peminjam.

Syarat dan ketentuan uang muka yang harus dibayarkan oleh peminjam tergantung pada masing-masing pemberi kredit.

Jadi, pahamilah dengan baik seluruh syarat dan ketentuan agar pengajuan kredit kamu bisa diterima.

Untuk besaran uang muka yang dibayarkan, juga akan tergantung pada kebijakan pemberi kredit itu sendiri.

Usahakanlah untuk memilih besaran uang muka yang memang sesuai dengan kemampuan finansial kamu, ya.

Itu dia penjelasan mengenai Down Payment dalam transaksi jual beli yang biasanya berlaku untuk rumah dan kendaraan. Kini, kamu sudah lebih paham dengan istilah DP, bukan?