Apa Itu Hukum Pareto Marketing? Ini 6 Penggunaannya dalam Pemasaran

Share this Post

hukum pareto marketing

Table of Contents

Apa itu hukum Pareto marketing? Ini merupakan aturan berdasarkan prinsip Pareto yang mengusung formula 80-20.

Aturan 80-20 sering digunakan dalam dunia bisnis dan ekonomi. Misalnya 20% pelanggan menghasilkan 80% pendapatan perusahaan.

Bisa juga 80% pendapatan datang dari 20% produk. Hukum Pareto marketing, selain dikaitkan dengan penjualan dan pemasaran, bisa pula diterapkan pada hal lain.

Misalnya dari segi customer relations, 80% persen komplain datang dari 20% pelanggan. Kita tentu tidak tahu apakah persentase ini sama persis dengan yang terjadi sebenarnya pada bisnis kita.

Namun dengan aturan ini, kita bisa membuat analisis dan perencanaan bisnis yang lebih baik. Berikut ini penjelasan mengenai hukum Pareto marketing secara lebih terperinci.

Baca Juga: Hukum Bisnis di Indonesia, Ini Ruang Lingkup dan Sumbernya

Pengertian Hukum Pareto Marketing

hukum pareto marketing

(Foto foto kurva bisnis. Sumber: Freepik.com)

Hukum Pareto marketing dikenal juga sebagai aturan 80-20.

Menurut Investopedia, aturan ini menyatakan bahwa 80% dari hasil atau output, dihasilkan dari 20% semua penyebab atau input untuk setiap peristiwa tertentu.

Dalam bisnis, hukum Pareto marketing digunakan untuk mengidentifikasi input yang berpotensi paling produktif dan menjadikannya prioritas.

Misalnya, begitu kamu mengidentifikasi faktor-faktor yang penting bagi keberhasilan perusahaan, kamu harus fokus pada faktor-faktor tersebut.

Hukum Pareto marketing sering digunakan dalam konteks bisnis dan ekonomi. Jadi, kamu dapat menerapkan konsep tersebut untuk bidang apa pun.

Misalnya untuk distribusi kekayaan, personal finance, kebiasaan belanja, hingga urusan pribadi.

Dalam bisnis, misalnya, hukum Pareto marketing sering digunakan untuk menunjukkan bahwa 80% pendapatan dihasilkan oleh 20% pelanggan.

Dengan konsep ini, mungkin akan menguntungkan bagi perusahaan jika fokus pada 20% pelanggan yang bertanggung jawab atas 80% pendapatan.

Dengan demikian, kamu bisa menerapkan personalized marketing kepada 20% pelanggan ini. Hal ini untuk mempertahankan pelanggan tersebut dan memperoleh pelanggan baru dengan karakteristik serupa.

Prinsip Pareto atau aturan 80-20, pertama kali digunakan dalam ekonomi makro untuk menggambarkan kekayaan di Italia pada awal abad ke-20.

Ekonom Italia, Vilfredo Pareto, yang memperkenalkan aturan 80-20 pada 1906, sehingga dikenal sebagai prinsip Pareto.

Awal kemunculan ide aturan 80-20 ini, yakni ketika Pareto memperhatikan bahwa 20% tanaman kacang polong di kebunnya bertanggung jawab atas 80% kacang polong.

Ia memperluas prinsip ini ke makroekonomi dengan menunjukkan bahwa 80% kekayaan di Italia dimiliki oleh 20% populasi.

Pada 1940-an, Ahli Manajemen Operasi, Dr. Joseph Juran, menerapkan aturan 80-20 pada kontrol kualitas produksi bisnis. Ia menunjukkan bahwa 80% kecacatan produk disebabkan oleh 20% masalah dalam metode produksi.

Dengan fokus pada mengurangi 20% masalah produksi, sebuah bisnis dapat meningkatkan kualitas secara keseluruhan.

Juran menyebut fenomena ini sebagai β€œhal vital yang sedikit dan hal trivia yang banyak.”

Baca Juga: 9 Cara Mendapatkan Copyright dalam Hukum Indonesia

Penggunaan Prinsip Pareto dalam Pemasaran

Apa Itu Hukum Pareto Marketing? Ini 6 Penggunaannya dalam Pemasaran

(Foto prinsip Hukum Pareto marketing. Sumber: SIRCLO Photo Stock)

Kini kamu sudah paham apa itu Hukum Pareto marketing dan konsep dasar aturan 80-20. Kamu bisa menerapkan konsep ini dalam bisnismu.

Salah satunya menggunakan prinsip Pareto dalam pemasaran. Dengan aturan 80-20, kamu dapat melakukan analisis bisnis, mengambil tindakan, hingga mengembangkan bisnis.

Berikut ini sejumlah cara penggunaan prinsip Pareto dalam pemasaran.

1. Menganalisis Pelangganmu

Dengan berprinsip 20% pelanggan menghasilkan 80% penjualan, kamu bisa mulai mengidentifikasi karakteristik 20% pelanggan teratasmu.

Informasi tersebut, kemudian kamu gunakan untuk menemukan lebih banyak pelanggan seperti mereka dan meningkatkan total penjualan.

Agar dapat mengidentifikasi 20% pelanggan ini, kamu bisa memeriksa catatan penjualanmu. Kumpulkan data siapa yang baru melakukan pembelian, lebih sering membeli, dan siapa yang paling banyak menghabiskan uang.

Pelanggan-pelanggan tersebut merupakan 20% pelanggan teratasmu. Fokuskan pesan pemasaranmu kepada mereka melalui personalized marketing.

2. Efisiensi Waktu

Kamu mungkin tergoda untuk coba menyenangkan semua pelanggan. Namun yang kamu lakukan bisa saja malah buang-buang waktu.

Dengan mengikuti hukum Pareto marketing, kamu bisa membuat prioritas pelanggan mana yang akan kamu layani terlebih dahulu. Idealnya memang kamu harus memberi pelayanan yang sama kepada semua pelanggan.

Namun kamu juga perlu meninggalkan calon pembeli yang tidak menunjukkan tanda-tanda akan melakukan tindakan. Hal ini agar kamu tidak membuang waktu.

Selain kepada pelanggan, hukum Pareto marketing bisa kamu terapkan pada berbagai unsur lain di bisnismu. Misalnya dalam hal operasional, pengadaan barang, dan sebagainya.

Baca Juga: Begini Cara Meningkatkan Bisnis di Search Engine

3. Pengembangan Produk

hukum pareto marketing
(Foto pengembangan produk. Sumber: Unsplash.com)

Hukum Pareto marketing bisa kamu terapkan juga pada pengembangan produk. Perhatikan lini produk apa yang paling laku di bisnismu.

Produk-produk tersebut merupakan 20% yang menghasilkan 80% penjualanmu.

Jadi, berbagai produk tersebut merupakan prioritasmu untuk meningkatkan, mempromosikan, dan mengiklankannya.

Namun bukan berarti kamu tidak boleh mengembangkan produk baru agar penawaranmu bisa bervariasi. Sadarilah bahwa menawarkan lini produk baru membutuhkan waktu, sumber daya, dan karyawan tambahan.

Jangan abaikan peluangmu untuk menambahkan lini produk baru ke inventarismu. Namun jangan abaikan pula lini produkmu yang sudah bermerek.

4. Berurusan dengan Pelanggan Sulit

Mau tidak mau, dalam berbisnis kamu akan berurusan dengan pelanggan yang sulit disenangkan atau terlalu menuntut.

Tentu ini menguji kesabaran dan menurunkan angka produktivitas karena harus meladeni pertanyaan atau permintaan yang berulang.

Jika kamu bersedia meladeni semua pelanggan, berarti kamu tidak bersikap tegas dalam menetapkan parameter layanan pelanggan yang baik. Perhatikan sikap pelanggan dan kebiasaan membeli mereka.

Apakah mereka termasuk 20% pelanggan teratasmu? Kamu mungkin saja kehilangan waktu untuk menanggapi pelanggan yang dalam jangka panjang mungkin tidak sepadan dengan waktu dan usahamu.

Baca Juga: 3 Komponen Fraud Triangle dan Penyebab Kecurangan dalam Bisnis

5. Menilai Kinerja Tenaga Sales

hukum pareto marketing
(Foto salesman sedang menawarkan produk. Sumber: Pexels.com)

Catat siapa saja tenaga sales yang termasuk 20% teratas di perusahaanmu. Mereka adalah anggota tim yang mendapatkan lebih banyak penjualan atau paling efektif melayani pelanggan.

Atribut dan teknik apa pun yang dimiliki tenaga sales teratas perusahaanmu, harus jadi tolok ukur.

Misalnya ketika kamu membentuk tim tambahan dan melatih tenaga sales lainnya, tolok ukur inilah yang digunakan.

6. Mengelola Biaya Operasional

Pengelolaan biaya operasional perusahaanmu dengan menggunakan prinsip Pareto bekerja di banyak tingkatan. Hal ini dapat membantumu menghemat dengan menghindari tindakan kontraproduktif.

Kamu pun dapat membuat keputusan anggaran yang baik. Misalnya, kamu memutuskan untuk melepaskan tenaga penjualan yang tidak produktif.

Sisi baiknya, kamu bisa menambah tunjangan makan harian bagi tim yang tersisa. Hal ini dapat meningkatkan produktivitas dan efisiensi tim sales-mu di tempat kerja.

Demikian penjelasan mengenai hukum Pareto marketing. Semoga informasi ini bermanfaat.