Perhitungan Job Order Costing, Berikut Dokumen yang Dibutuhkan

Share this Post

job order costing

Table of Contents

Ada banyak aspek yang perlu diperhatikan dalam memproduksi barang. Salah satunya menentukan biaya pesanan produk menggunakan job order costing. Apa itu job order costing?

Job order costing adalah metode penetapan biaya yang digunakan untuk menentukan biaya produksi setiap produk.

Biasanya, metode penetapan biaya ini diadopsi oleh produsen yang menghasilkan berbagai produk berbeda satu sama lain dan perlu menghitung biaya untuk melakukan pekerjaan individu.

Penetapan biaya pekerjaan yang dimaksud mencakup tenaga kerja langsung, bahan langsung, dan overhead pabrik.

Jadi, jika perusahaan kamu memproduksi barang-barang unik untuk pelanggan, penggunaan job order cost mungkin diperlukan dalam mengelola setiap pesanan dengan benar.

Dengan begitu, kamu juga bisa memastikan waktu dan sumber daya yang digunakan untuk membuat produk sehingga menguntungkan bagi bisnis.

Baca Juga: Cara Menghitung Cost Per Lead, Berikut Tips Mengoptimalkannya

Jenis Biaya yang Terlibat pada Job Order Costing

biaya yang terlibat job order costing
(Foto ilustrasi kesepakatan kerja sama. Sumber: Pexels.com)

Dalam menghitung job order cost, ada beberapa biaya yang terlibat di antaranya:

1. Bahan Langsung

Ini merupakan biaya yang dikeluarkan untuk membeli bahan-bahan guna keperluan produksi.

Bagi kamu yang belum tahu, bahan langsung adalah bahan baku yang digunakan untuk memproduksi produk.

Misalnya, pulp kayu adalah biaya langsung untuk pembuatan kertas, karena merupakan bahan baku utama yang digunakan dalam proses tersebut.

2. Tenaga Kerja Langsung

Jenis biaya lain yang terlibat dalam job order cost ialah tenaga kerja langsung. Ini merupakan biaya karyawan yang terlibat langsung dalam proses produksi produk.

Dalam hal ini, termasuk upah karyawan dan manfaat lain yang ditawarkan saat mengerjakan produk.

Misalnya, orang yang mengumpulkan pulp kayu dan mengirimkannya untuk diproses menjadi kertas, dan orang yang memantau seluruh proses produksi dari awal hingga akhir, keduanya dianggap sebagai tenaga kerja langsung.

Sedangkan penjaga atau petugas kebersihan yang dipekerjakan untuk mengawasi dan membantu selama proses produksi adalah tenaga kerja tidak langsung dan tidak termasuk sebagai bagian dari tenaga kerja langsung.

3. Biaya Overhead

Biaya overhead adalah biaya dikeluarkan dalam pembuatan produk atau penyediaan layanan selain tenaga kerja langsung dan bahan langsung seperti sewa, listrik, depresiasi, biaya hukum, dan lainnya.

Seluruh biaya overhead ditambahkan termasuk dalam lembar biaya di bagian akhir dan dibebankan ke barang jadi.

Beberapa biaya overhead biasanya merupakan variabel, dan sebagian lainnya dapat bersifat sebagai biaya tetap.

Baca Juga: Cara Menghitung Average Cost, Ini Penjelasan Lengkapnya

Dokumen yang Diperlukan dalam Job Order Costing

dokumen job order costing
(Foto penandatanganan dokumen. Sumber: Pexels.com)

Dalam job order costing, ada beberapa dokumen yang kamu perlukan, seperti:

1. Formulir Permintaan Bahan

Untuk melacak bahan yang digunakan dalam item/pesanan saat ini, perusahaan menggunakan formulir permintaan bahan.

Mengutip laman Indeed, formulir ini menyatakan bahwa bahan tertentu telah diambil dari inventaris dan dimasukkan ke dalam pembuatan pesanan pekerjaan.

Biasanya, isi formulir permintaan bahan mencakup:

  • Tanggal bahan diambil dari inventaris.
  • Nomor pekerjaan unik.
  • Jumlah persis material yang diambil.
  • Nomor barang dan deskripsi.
  • Berapa biaya setiap item material.
  • Total semua item diambil.
  • Siapa yang meminta barang.
  • Siapa yang memberi harga barang.
  • Kepada siapa barang itu diberikan.

Ketika seorang karyawan memasukkan informasi ke dalam formulir permintaan bahan, mereka mungkin perlu mencari informasi yang diminta dari sumber lain.

Misalnya, ketika mencoba mencari tahu berapa harga barang-barang material, mereka mungkin meminta departemen akuntansi untuk pengecekan harga.

2. Lembar Biaya Pekerjaan

Lembar biaya pekerjaan adalah sumber utama untuk melacak item agar harga dan inventaris tetap akurat. Untuk menjaga akurasi ini, lembar biaya pekerjaan biasanya berisi informasi berupa:

  • Tanggal pekerjaan dimulai.
  • Tanggal karyawan menyelesaikan pekerjaan.
  • Tanggal pesanan dikirim ke pelanggan.
  • Informasi pelanggan, biasanya alamat mereka.
  • Informasi catatan pekerjaan, termasuk biaya overhead, bahan apa yang digunakan dan informasi tenaga kerja.
  • Ringkasan biaya akhir pekerjaan.

Setiap detail informasi pekerjaan di atas akan memiliki bagiannya sendiri untuk menunjukkan dengan jelas kepada pembaca informasi apa yang dibutuhkan dan apa yang sedang dilacak.

3. Time Ticket

Karena seorang karyawan bekerja berdasarkan pesanan yang unik, mereka sering kali diminta untuk mengisi lembar waktu yang mencatat pekerjaan yang telah mereka selesaikan. Bagian dari tiket waktu dapat mencakup:

  • Nama karyawan dan nomor ID.
  • Nomor pekerjaan spesifik yang mereka selesaikan.
  • Daftar setiap pekerjaan.
  • Tanggal setiap pekerjaan dimulai.
  • Berapa jam setiap pekerjaan yang dibutuhkan karyawan untuk menyelesaikannya.
  • Tarif per jam karyawan.
  • Total biaya pekerjaan.
  • Persetujuan akuntansi dan supervisor.

Baca Juga: Biaya Variabel Adalah Biaya yang Berubah dalam Operasional Bisnismu

Manfaat Perhitungan Job Order Costing

manfaat job order costing
(Foto konsultan dan klien. Sumber: Pexels.com)

Tentunya, menghitung job order cost tidak dilakukan tanpa alasan. Ada beberapa manfaat yang akan kamu dapatkan jika melakukan perhitungan job order costing, di antaranya:

1. Menentukan Profitabilitas Pelanggan

Salah satu manfaat perhitungan job order costing ialah bisa membantu kamu dalam menentukan profitabilitas pelanggan.

Itu artinya, kamu bisa mengukur apakah pekerjaan yang dilakukan dalam operasional bisnis dapat menguntungkan atau justru sebaliknya.

Perhitungan job oder cost akan membantu perusahaan membuat perkiraan tentang nilai bahan, tenaga kerja, dan overhead yang akan dihabiskan saat melakukan pekerjaan tertentu.

Dengan penetapan biaya pesanan pekerjaan yang efisien, kamu bisa membuat penawaran yang cukup rendah agar dapat bersaing di industri dan tetap menghasilkan keuntungan bagi perusahaan.

2. Membantu Pengambilan Keputusan

Menghitung job order costing juga bisa membantu kamu dalam pengambilan keputusan, lho.

Hal ini karena sistem penetapan biaya pesanan menjadi basis data berharga yang menyimpan detail dan biaya untuk melakukan pekerjaan seiring berjalannya waktu.

Oleh karenanya, informasi yang disimpan dapat digunakan sebagai data empiris untuk membantu perusahaan mengevaluasi efisiensinya dan menghemat biaya dengan cara mengubah prosedur, metode, atau mungkin stafnya.

3. Memantau Penggunaan Aset

Dilansir dari Zoho Inventory, perhitungan job order cost juga bisa membantu kamu dalam memantau penggunaan aset tetap milik perusahaan.

Misalnya untuk melihat seberapa banyak peralatan manufaktur yang digunakan untuk keperluan pemenuhan permintaan dari pelanggan.

Identifikasi biaya seperti ini memiliki peran yang penting untuk mengetahui biaya pekerjaan.

Pasalnya, kamu bisa menentukan jumlah overhead yang dialokasikan untuk setiap aset dan mendistribusikannya secara adil di setiap operasional perusahaan.

Baca Juga: 7 Manfaat Menghitung Food Cost dalam Bisnis Kuliner

Contoh Penerapan Job Order Costing

contoh job order costing
(Foto agen properti. Sumber: Pexels.com)

Bagi kamu yang masih bingung, mungkin bisa mencari tahu contoh penerapan job order costing agar semakin mudah memahaminya.

Berikut ini contoh penerapan sistem penetapan biaya pesanan dalam berbagai industri:

1. Firma Hukum dan Bisnis Akuntansi

Job order costing dapat digunakan oleh firma hukum dan bisnis akuntansi karena pengacara dan akuntan bekerja dengan klien yang berbeda pada akun yang unik.

Misalnya ketika seorang pengacara pengurus perceraian dapat bekerja dengan klien dalam memberikan nasihat dan bantuan hukum dasar untuk kasus yang tidak memerlukan banyak penelitian hukum, pertemuan klien-pengacara, atau sumber daya tambahan.

Jika pengacara perceraian bekerja pada kasus kompleks yang membutuhkan jam tambahan penelitian, pertemuan dan sumber daya lainnya, mereka akan menggunakan job order cost untuk menghitung jumlah biaya sumber daya yang digunakan dalam pelayanan ini.

2. Pelayanan Medis

Pelayanan medis seperti rumah sakit dan klinik juga biasanya menggunakan job order costing dalam operasionalnya.

Dengan job order cost, pekerja yang menyediakan pelayanan medis bisa menentukan berapa biaya yang harus dibebankan kepada setiap pasien.

Contohnya ketika seorang pasien tiba di klinik membutuhkan pemeriksaan, mereka jelas membutuhkan biaya perawatan yang lebih sedikit daripada seseorang yang membutuhkan operasi kompleks dan memerlukan beberapa malam menginap.

Berdasarkan kebutuhan yang berbeda dari setiap pasien, tim akuntansi rumah sakit atau klinik biasanya akan membuat biaya pesanan pekerjaan terpisah untuk setiap layanan.

Baca Juga: Cara Menghitung Cost Per Lead dan 6 Tips Mengelolanya

3. Perusahaan Konstruksi

Dikutip dari laman Indeed, banyak pekerja konstruksi merancang bangunan yang dibuat khusus dan memenuhi kebutuhan pemilik atau manajer properti tertentu.

Mereka sering memperkirakan biaya setiap produk yang dibutuhkan untuk membangun bangunan atau bagian properti.

Setelah diperkirakan pada lembar biaya pekerjaan, mereka akan menyajikan perkiraan ini kepada manajer atau pemilik properti.

Jika disetujui, perusahaan konstruksi akan menggunakan lembar pesanan pekerjaan untuk melacak progress mereka dan jumlah uang yang dibelanjakan.

Jadi, proses pengerjaannya tetap dalam anggaran yang telah disepakati oleh pemilik atau manajer properti tertentu.

Itulah penjelasan seputar job order costing yang perlu kamu pahami. Semoga informasinya bisa menambah wawasanmu dalam berbisnis, ya.