Bisnis Cengkeh: Peluang, Manfaat, dan Tantangannya

Share this Post

bisnis cengkeh

Table of Contents

Cengkeh adalah salah satu komoditas komersial yang cukup potensial dikembangkan di Indonesia. Llau bagaimana peluang bisnis cengkeh?

Komoditas cengkeh ini pula yang dulunya menarik pendatang asal Eropa dan negara Asia lain untuk berbisnis dengan Indonesia.

Sampai tahun 2020, data Mordor Intelligence menyebut Indonesia sebagai produsen cengkeh terbesar dunia dengan persentase mencapai 72,9 persen. Disusul oleh Madagaskar, Tanzania, Kepulauan Komoro, dan Sri Lanka. 

Melansir tulisan Kembauw, dkk. dalam jurnal yang berjudul ‘Clove Processing as A Source of Increasing Business Income in Ambon City’, 99 % proses produksinya digarap oleh petani, bukan perusahaan perkebunan.

Artinya semua orang sebenarnya memiliki kesempatan untuk mengembangkan bisnis ini secara independen dalam skala kecil. 

Apa saja peluang dan tantangan dari bisnis cengkeh? Apa pula manfaat dari bisnis pertanian ini? Simak ulasan lengkapnya di bawah. 

Baca Juga: Untung Banyak! Ini 5 Ide Bisnis Tanaman Hias dari Rumah

Kegunaan Tanaman Cengkeh 

bisnis cengkeh
(Foto bunga cengkeh kering. Sumber: Pexels.com)

Ketika bicara bisnis cengkeh, sebenarnya kamu akan memperjuabelilkan bagian bunga dari pohon cengkeh. Bunga tersebut banyak dipakai untuk campuran bahan rokok atau sebagai rempah untuk bumbu masakan.

Namun, sebenarnya cengkeh memiliki khasiat lain yang mulai dilirik orang, misalnya untuk campuran produk perawatan kulit serta rambut hingga obat-obatan.

Menurut Kembauw dkk, pula ditemukan bahwa selama ini cengkeh mayoritas dijual dalam bentuk bunga kering, masih jarang yang mengolahnya menjadi minyak atsiri. 

Selain aromanya yang harum, cengkeh merupakan tumbuhan herbal yang kaya akan antioksidan sehingga dipercaya bisa meningkatkan imunitas hingga mencegah kanker maupun kerusakan sel.

Di samping itu, ia mengandung eugenol yang melawan penggumpalan dan melancarkan peredaran darah. 

Tidak hanya bunga, daun cengkeh juga bisa dimanfaatkan untuk minuman herbal. Khasiat kesehatannya terbukti terutama untuk melancarkan pencernaan, mengobati sakit gigi, meredakan masalah pernapasan, meredakan nyeri serta pegal.

Baca Juga: Bisnis Rempah-Rempah, Begini Peluang dan Cara Memulainya

Plantasi Cengkeh di Indonesia

Bisnis Cengkeh: Peluang, Manfaat, dan Tantangannya
(Foto perkebunan. Sumber: Pexels.com)

Melansir Earth Journalism, cengkeh berbeda dengan tanaman lainnya. Ia tumbuh secara alami atau luar di pegunungan yang dekat dengan lautan.

Namun, bukan berarti mereka tidak bisa dibudidayakan. Tercatat ada beberapa provinsi yang dikenal sebagai produsen cengkeh terbesar di Indonesia, terutama di kawasan Maluku, Sulawesi, dan Jawa Timur. Mereka adalah basis utama dari bisnis cengkeh di negeri ini.

Namun, beberapa tahun belakangan terjadi penurunan produksi karena perubahan iklim. Melansir sumber yang sama, cengkeh adalah tanaman yang cukup sensitif pada iklim dan temperatur.

Dengan kenaikan suhu dan kurangnya curah hujan, cengkeh akan memproduksi hormon abscisic acid (ABA) yang akan menghambat proses fotosintesis. 

Sebaliknya, bila curah hujan berlebih, cengkeh juga akan mengalami kelebihan hormon gibberellin acid (GA) yang akan memperbanyak jumlah daun serta menurunkan kemampuan membentuk bunga.

Cengkeh harus tumbuh di suhu ideal 25-32 derajat dengan rata-rata curah hujan 1500-3500 mm.

Baca juga: Ikuti 5 Tips Bisnis Bibit Anggrek Online Berikut, Biar Cuan

Proses Produksi Cengkeh dan Perhitungan Profit

bisnis cengkeh
(Foto cengkeh dan kayu manis. Sumber: Pexels.com)

Merujuk Kembauw dkk, di kota Ambon proses produksi cengkeh memiliki dua rantai. Rantai pertama datang dari keluarga petani yang mengumpulkan hasil panen mereka ke kolektor di satu desa.

Kolektor kemudian menjualnya ke tengkulak atau pengepul skala besar untuk kemudian dijual ke pabrik atau pebisnis lain yang butuh bahan mentah. Rantai kedua datang dari petani yang langsung menjual cengkeh panen mereka ke tengkulak besar. 

Untuk masalah profit, kamu bisa menilik  penelitian Lolowang, Palenewen, dan Mirah dalam Jurnal Ilmiah Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Sam Ratulangi yang menghitung keuntungan petani cengkeh selama setahun atau sekali panen di sebuah desa di Minahasa.

Ditemukan bahwa sekali panen, 30 responden petani bisa mendapat untung rata-rata sebesar Rp54 juta yang artinya dalam sebulan mereka mendapatkan gaji sekitar Rp4,5 juta.

Tentunya perhitungan ini bisa berbeda-beda tergantung pada keberhasilan panen dan penyesuaian biaya produksi tiap petani. 

Menurut data BPS, di Jawa Timur kebun cengkeh paling besar ditemukan di Pacitan, Malang, dan Trenggalek. Ini menjadi pertanda bahwa cengkeh tidak hanya terbatas bisa ditanam di tempat asalnya. Namun, bisa dibudidayakan di kawasan-kawasan lain dengan suhu dan iklim yang pas. 

Baca Juga: Tertarik Bisnis Kapulaga? Ini 6 Cara Budidayanya

Peluang Bisnis Cengkeh 

bisnis cengkeh
(Foto cengkeh kering. Sumber: Pexels.com)

Masih melansir Mordor Intelligence, permintaan cengkeh terbesar datang dari Uni Emirat Arab, India, Tiongkok, dan Vietnam. Mereka tercatat menjadi importir cengkeh utama dari Indonesia. Kebanyakan untuk campuran bahan makanan atau bumbu. 

Hal ini adalah bukti bahwa cengkeh masih jadi komoditas yang menguntungkan dan diminati. Harga cengkeh di pasar global adalah sekitar Rp100 ribu atau 7,5 USD per kilogramnya.

Namun, tetap harus dipotong dengan biaya produksi dan distribusi yang tidak sedikit. Untuk ini, sebagai pebisnis kamu tetap harus menghitung dengan jeli. 

Jika merujuk pada rekomendasi  Kembauw, dkk., sebenarnya ada peluang untuk melakukan produksi cengkeh dalam bentuk minyak atsiri.

Bisnis cengkeh dengan mengolahnya menjadi minyak atsiri bisa membuka kerjasama dengan produsen personal care products macam kosmetik, perawatan kulit, hingga farmasi. Silakan jadikan pertimbangan bila memang tertarik untuk menekuni bisnis ini nantinya. 

Baca juga: 7 Cara Jual Pupuk Online, Menyenangkan Pecinta Tanaman!

Keuntungan dan Tantangan 

bisnis cengkeh
(Foto minyak atsiri cengkeh. Sumber: Pexels.com)

Bisnis cengkeh dinilai lebih ramah lingkungan. Tanaman ini tidak memiliki potensi besar merusak kualitas tanah seperti tanaman komoditas lain semisal kelapa sawit dan kedelai.

Fakta ini  bisa jadi nilai plus tersendiri untuk pebisnis yang punya concern dengan isu lingkungan atau hendak menyasar target konsumen yang conscious, seperti pasar Uni Eropa dan Amerika Serikat. 

Namun, pebisnis cengkeh harus sadar akan tantangan-tantangan lain seperti perubahan iklim yang sudah terbukti mengurangi kapasitas produksi tanaman.

Proses ekspor impor yang akan terdampak kenaikan harga bahan bakar yang melonjak bila kondisi politik tidak kondusif seperti saat ini. Sampai tantangan dari proses produksi atau panennya yang membutuhkan banyak tenaga. 

Baca Juga: Bisnis Rendang Koperasi Anak Nagari Minangkabau

Permakultur Cengkeh 

Bisnis Cengkeh: Peluang, Manfaat, dan Tantangannya
(Foto menanam bibit cengkeh. Sumber: Pexels.com)

Bila bisnis cengkeh skala besar terhalang ketersediaan modal, kamu bisa mencoba permakultur. Ini adalah kegiatan bercocok tanam dalam skala kecil yang belakangan banyak dilirik orang.

Cengkeh bisa ditanam asal berada di media serta suhu dan iklim yang cocok. Temperatur Indonesia seyogyanya ideal untuk cengkeh, terutama untuk yang berada di dataran tinggi.

Dengan permakultur, kamu mungkin tidak akan mendapat keuntungan maksimal seperti perkebunan skala besar.

Sebagai solusinya, cengkeh bisa ditanam bersama tanaman komersial lain yang punya nilai guna. Misalnya rempah atau tanaman herbal lainnya, buah, dan sayuran. 

Permakultur juga ideal untuk kamu yang belum berani berbisnis secara serius, tetapi ingin mencoba mencukupi kebutuhan pribadi.

Permakultur mengikuti konsep peradaban di masa lalu di mana manusia bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhannya sendiri atau yang dikenal pula dengan istilah self-sufficient.

Bukan untuk mengumpulkan profit sebanyak mungkin. Ketika upayamu menanam cengkeh berbuah hasil dan jumlahnya surplus, kamu bisa menjualnya sebagai pendapatan sampingan. 

Cengkeh adalah komoditas asli Indonesia yang pernah dan sampai kini mendunia. Ia masih ditanam secara tradisional oleh para petani kecil yang berarti memiliki manfaat baik untuk pertumbuhan UMKM nasional. Sayangnya, dampak perubahan iklim memang tak bisa dielakkan lagi.

Namun, bukan berarti peluangnya benar-benar punah. Coba langkah-langkah kecil dan baru untuk mengembangkan bisnis yang berkelanjutan dan tetap menghasilkan profit.

Saatnya Buka Toko Online Sendiri!

Saatnya Punya Toko Online Sendiri !