Produk Domestik Bruto (PDB), Indikator Perekonomian Negara

Share this Post

Produk Domestik Bruto

Table of Contents

Apakah kamu sudah tahu yang dimaksud dengan PDB atau Produk Domestik Bruto?

Ada berbagai aspek yang dapat dijadikan indikator perekonomian sebuah negara, salah satunya adalah Produk Domestik Bruto (PDB).

Melansir laman Badan Pusat Statistik, PDB pada dasarnya merupakan jumlah nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha dalam suatu negara tertentu, atau jumlah nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit ekonomi.

Jadi secara garis besar, Produk Domestik Bruto (PDB) adalah total nilai produksi dan jasa yang dihasilkan semua orang atau perusahaan dalam suatu negara.

Termasuk nilai tambah dalam kurun waktu tertentu, biasanya selama satu tahun.

Ketika hasil perhitungan PDB menunjukkan jumlah yang tinggi, itu artinya suatu negara mengalami pertumbuhan.

Untuk menghitungnya, yuk cari tahu rumus PDB beserta informasi selengkapnya dalam artikel di bawah ini.

Baca Juga: 7 Persiapan Menghadapi Krisis Ekonomi, Catat Baik-baik!

Jenis-jenis Produk Domestik Bruto

Produk Domestik Bruto
(Foto uang tunai. Sumber: Unsplash.com)

Produk Domestik Bruto (PDB) di Indonesia sendiri dibagi dalam beberapa bentuk berdasarkan peraturan dari Badan Pusat Statistik.

Pertama, PDB harga berlaku dan yang kedua PDB harga konstan. Apa bedanya? Berikut penjelasan lengkapnya:

PDB harga berlaku merupakan hasil perkalian harga barang yang diproduksi dengan jumlah barang yang dihasilkan.

Jadi, PDB berlaku = output x harga berlaku

Perhitungan PDB berdasarkan harga berlaku kurang mencerminkan kondisi perekonomian yang sesungguhnya, karena adanya perbedaan harga pada setiap tahunnya akibat pengaruh inflasi.

Untuk menghasilkan perhitungan yang akurat, maka perhitungan PDB didasarkan pada harga konstan

PDB konstan = output x harga konstan

Nah, PDB harga konstan diperoleh dengan terlebih dahulu menentukan tahun dasar (based year) yang merupakan tahun dimana perekonomian dalam kondisi stabil.

Harga barang pada tahun tersebut digunakan sebagai harga konstan.

Nilai PDB konstan ini disebut juga sebagai PDB riil. Sedangkan nilai PDB berlaku disebut PDB nominal.

Sederhananya, Produk Domestik Bruto atas harga berlaku dapat digunakan untuk melihat pergeseran dan struktur ekonomi.

Sedangkan harga konstan digunakan untuk mengetahui pertumbuhan ekonomi negara dari tahun ke tahun.

Baca Juga: Apa Itu The Fed? Pergerakannya Bisa Pengaruhi Ekonomi Dunia

Mengapa PDB Dijadikan Indikator Perekonomian?

alasan Produk Domestik Bruto jadi indikator ekonomi
(Foto globe. Sumber: Unsplash.com)

Lantas, atas dasar apa Produk Domestik Bruto (PDB) ditetapkan menjadi salah satu indikator perekonomian negara?

Melansir Jurnal Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM), ada beberapa alasan digunakannya PDB sebagai indikator pengukuran pertumbuhan ekonomi, yaitu:

Pertama, PDB dihitung berdasarkan jumlah nilai tambah (value added) yang dihasilkan seluruh aktivitas produksi di dalam perekonopmian.

Dalam hal ini, peningkatan PDB mencerminkan peningkatan balas jasa kepada faktor produksi yang digunakan dalam proses produksi.

Kedua, PDB dihitung atas dasar konsep siklus aliran (circulair flow concept). Artinya, perhitungan PDB mencakup nilai produk yang dihasilkan pada suatu periode tertentu.

Perhitungan ini tidak mencangkup perhitungan pada periode sebelumnya. Pemanfaatan konsep aliran dalam menghitung PDB memungkinkan seseorang untuk membandingkan jumlah output pada tahun ini dengan tahun sebelumnya.

Ketiga, batas wilayah perhitungan PDB adalah Negara (perekonomian domestik).

Hal ini memungkinkan untuk mengukur sampai sejauh mana kebijakan ekonomi yang diterapkan pemerintah maupun mendorong aktivitas perekonomian domestik.

Baca Juga: Karakteristik Ekonomi Digital, Ini Dia Kelebihannya

Cara Menghitung Produk Domestik Bruto

cara menghitung Produk Domestik Bruto
(Foto kalkulator. Sumber: Unsplash.com)

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), ada tiga pendekatan yang bisa digunakan untuk menghitung Produk Domestik Bruto (PDB), yaitu:

1. Berdasarkan Pendekatan Produksi

Produk Domestik Bruto (PDB) adalah jumlah nilai tambah atas barang dan jasa yang dihasilkan oleh berbagai unit produksi di wilayah suatu negara dalam jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun).

Unit-unit produksi tersebut dalam penyajiannya dikelompokkan menjadi beberapa sektor atau lapangan usaha, yaitu: (1) Pertanian, Perternakan, Perkebunan, Kehutanan dan Perikanan. (2) Pertambangan dan Penggalian. (3) Industri Pengolahan. (4) Listrik, Gas dan Air. (5) Bangunan/Konstruksi. (6) Perdagangan, Hotel, dan Restoran. (7) Angkutan dan Komunikasi. (8) Keuangan, Sewa Bangunan, dan Jasa.

2. Menurut Pendekatan Pendapatan

Produk Domestik Bruto merupakan jumlah balas jasa yang diterima oleh faktor-faktor produksi yang ikut serta dalam proses produksi di suatu negara dalam jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun).

Balas jasa faktor produksi yang dimaksud adalah upah dan gaji, sewa tanah, bunga modal dan keuntungan. Semuanya sebelum dipotong pajak penghasilan dan pajak langsung lainnya.

Dalam definisi ini, Produk Domestik Bruto mencakup juga penyusutan dan pajak tidak langsung neto (pajak tak langsung dikurangi subsidi).

3. Menggunakan Pendekatan Pengeluaran

Produk Domestik Bruto (PDB) adalah semua komponen permintaan akhir yang terdiri dari pengeluaran konsumsi rumah tangga dan lembaga swasta nirlaba, pengeluaran konsumsi pemerintah, pembentukan modal tetap domestik bruto, perubahan inventori, dan ekspor neto (ekspor neto merupakan ekspor dikurangi impor).

Dari ketiga pendekatan penghitungan tersebut, secara konsep alangkah baiknya jumlah pengeluaran tadi harus sama dengan jumlah barang dan jasa akhir yang dihasilkan dan harus sama pula dengan jumlah pendapatan untuk faktor-faktor produksinya.

Baca Juga: Contoh Ekonomi Agrikultur dan Cara Mengoptimalkannya

Perhitungan PDB Metode Pengeluaran

metode pengeluaran Produk Domestik Bruto
(Foto statistik. Sumber: Pexels.com)

Salah satu metode yang digunakan dalam perhitungan Produk Domestik Bruto (PDB) ialah dengan menggunakan pendekatan pengeluaran.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, perhitungan PDB dengan metode pengeluaran merupakan nilai total pengeluaran dalam perekonomian selama periode tertentu.

Menurut metode ini ada beberapa jenis pengeluaran agregat dalam suatu perekonomian, yaitu:

  • Konsumsi Rumah Tangga atau Household Consumption (C)
  • Konsumsi Pemerintah atau Government Consumption (G)
  • Pengeluaran Investasi atau Investment Expenditure  (I)
  • Ekspor Neto atau Net Export  (X–M)

Nah, metode perhitungan PDB berdasarkan pengeluaran adalah nilai total lima jenis pengeluaran tersebut sebagai berikut:

PDB = C + G + I + (X–M)

Dimana:

C = konsumsi rumah tangga

G = konsumsi/pengeluaran pemerintah

I = PMTDB (Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto)

X = ekspor

M = impor

Dikutip dari Jurnal UIN Banten, komponen dari pada perhitungan PDB berdasarkan pengeluaran adalah sebagai berikut:

  • Konsumsi Rumah Tangga (Household Consumption)

Pengeluaran sektor rumah tangga digunakan untuk konsumsi akhir, baik barang dan jasa yang habis pakai dalam tempo setahun atau kurang (durable goods) maupun barang yang dapat dipakai lebih dari setahun/barang tahan lama (non-durable goods).

  • Konsumsi Pemerintah (Government Consumption)

Konsumsi pemerintah adalah pengeluaran-pengeluaran pemerintah yang digunakan untuk membeli barang dan jasa akhir (government expenditure).

Sedangkan pengeluaran untuk tunjangan-tunjangan sosial tidak masuk dalam perhitungan konsumsi pemerintah.

Itulah sebabnya dalam data statistik PDB, pengeluaran konsumsi pemerintah nilainya lebih kecil daripada pengeluaran yang tertera dalam anggaran pemerintah (sisi pengeluaran anggaran negara).

  • Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto (Investment Expenditure)

Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto (PMTDB) merupakan pengeluaran sektor dunia usaha. Pengeluaran ini dilakukan untuk memelihara dan memperbaiki kemampuan menciptakan/meningkatkan nilai tambah.

Yang termasuk dalam PMTDB adalah perubahan stok, baik berupa barang jadi maupun barang setengah jadi.

Untuk mengetahui berapa potensi produksi, akan lebih akurat bila yang dihitung adalah investasi neto (net investment), yaitu investasi bruto dikurangi penyusutan.

Penghitungan PMTDB ini menunjukkan bahwa pendekatan pengeluaran lebih mempertimbangkan barang-barang modal yang baru (newly capital goods).

Barang-barang modal tersebut mempakan output baru, karena itu harus dimasukkan dalam perhitungan PDB.

  • Ekspor Neto (Net Export)

Ekspor neto atau ekspor bersih adalah selisih antara nilai ekspor dengan impor.

Ekspor neto yang positif menunjukkan bahwa ekspor lebih besar dari pada impor. Begitu juga sebaliknya.

Perhitungan ekspor neto dilakukan bila perekonomian melakukan transaksi dengan perekonomian lain di negara-negara dunia.

Baca Juga: 6 Manfaat Kewirausahaan bagi Pertumbuhan Ekonomi

Manfaat Produk Domestik Bruto

manfaat produk domestik bruto
(Foto contoh statistik ekspor. Sumber: Pexels.com)

Setelah mengetahui cara penghitungan Produk Domestik Bruto (PDB), kamu juga perlu memahami apa manfaat dari Produk Domestik Bruto.

Selain menjadi salah satu indikator pertumbuhan ekonomi, ada manfaat lain dari PDB. Apa saja, ya? Berikut di antaranya yang perlu kamu simak:

1. Indikator Laju Perekonomian Nasional

Dilakukannya perhitungan Produk Domestik Bruto (PDB) memungkinkan suatu negara untuk memeroleh informasi pertumbuhan dari segi perekonomian.

Dengan mengetahui laju perekonomian secara nasional, negara pun bisa mengetahui manakah sektor-sektor yang memiliki kinerja tinggi.

Ke depannya, negara bisa memaksimalkan performa sektor-sektor tersebut agar hasilnya lebih optimal bagi perekonomian.

2. Bantu Memahami Struktur Ekonomi Negara

Adanya PDB juga bisa membantu kamu dalam memahami struktur perekonomian suatu negara, lho.

Sebab, perhitungan PDB meliputi banyak aspek. Jadi, kamu bisa mengetahui apa saja faktor dan sektor perekonomian dari suatu negara.

Kamu pun dapat memahami sumber-sumber penghasilan dari suatu negara.

3. Perbandingan Laju Ekonomi antar Negara

Hasil perhitungan PDB suatu negara juga bisa menjadi salah satu aspek perbandingan laju perekonomian antar negara lain.

Dengan begitu, kamu bisa mengetahui apa saja kelebihan dan kekurangan perekonomian negara-negara lain di dunia.

Angka PDB dari setiap negara bisa membantu kamu melihat negara mana saja yang lebih unggul dari segi ekonomi.

Hal tersebut dapat kamu lihat dengan adanya istilah negara G7 dan G20 yang di dalamnya meliputi daftar negara-negara berekonomi kuat.

Bagi negara maju secara ekonomi, hal ini tentu merupakan prestasi yang membanggakan.

Sementara, untuk negara yang mungkin masih tertinggal, bisa jadi motivasi agar dapat lebih maju ke depannya.

4. Dasar Perumusan Kebijakan

Tidak hanya itu, adanya hasil perhitungan PDB juga bisa menjadi dasar perumusan kebijakan suatu negara oleh pemerintah.

Produk Domestik Bruto (PDB) memungkinkan pemerintah untuk mengetahui sektor ekonomi mana saja yang berkinerja baik atau pun kurang optimal.

Berdasarkan analisis tersebut, pemerintah pun bisa membuat kebijakan untuk mendongkrak sektor-sektor pertanian agar hasil ke depannya lebih maksimal.

5. Mengetahui Tingkat Kemakmuran Negara

Perhitungan PDB tidak hanya bisa memperkirakan laju ekonomi negara, akan tetapi juga dapat mengukur seberapa makmur negara tersebut.

Hal ini bisa dilakukan dengan cara membaginya dengan jumlah penduduk. Angka tersebut dikenal sebagai PDB per kapita.

Biasanya makin tinggi angka PDB per kapita, kemakmuran rakyat dianggap semakin tinggi.

Selain itu, makin tinggi PDB per kapita, tingkat kesejahteraan sosial juga akan membaik.

Jika PDB naik maka daya beli masyarakat, kesempatan kerja, kesehatan dan gizi, pendidikan dan lain sebagainya akan meningkat. Begitu pula sebaliknya.

Baca Juga: Cashless Society: Keuntungan dan Tantangannya untuk Masa Depan Ekonomi Indonesia

Kelemahan Perhitungan PDB

kelemahan perhitungan produk domestik bruto
(Foto pedagang sayur dan buah. Sumber: Pexels.com)

Meskipun Produk Domestik Bruto (PDB) dijadikan salah satu cara menghitung laju perekonomian hingga tingkat kesejahteraan suatu negara, akan tetapi ada beberapa kelemahan yang dimiliki.

Sebab, perhitungan PDB hanya terbatas pada kegiatan belanja, investasi, ekspor dan impor suatu negara.

Padahal kenyataannya, ada banyak aktivitas perekonomian lain yang tidak tercatat di luar kegiatan-kegiatan ekonomi formal seperti yang telah disebutkan.

Misalnya aktivitas ekonomi yang dilakukan oleh para pedagang kaki lima, UMKM, upah pembantu rumah tangga, petani yang langsung menjual hasil panennya ke pasar, dan lain-lain.

Jadi, perhitungan PDB sebagai indikator perekonomian dari sebuah negara dinilai kurang adil karena ada beberapa sektor yang dikesampingkan.

Padahal semua sektor atau kegiatan ekonomi yang dilakukan memiliki kontribusi besar bagi negara itu sendiri.

Statistik Produk Domestik Bruto (PDB) pun belum mencerminkan seluruh aktivitas perekonomian suatu negara.

Selain itu, PDB hanya menghitung output yang dianggap memenuhi kebutuhan fisik/materi yang dapat diukur dengan nilai uang.

PDB tidak menghitung output yang tidak terukur oleh uang misalnya ketenangan batin. Padahal dimensi nonmaterial seperti ini juga penting untuk diperhatikan.

Baca Juga: Resesi Ekonomi, Ini Dia Penyebab dan Dampaknya

Itu dia penjelasan seputar Produk Domestik Bruto (PDB) yang perlu kamu pahami. Semoga informasinya bisa menambah wawasanmu, ya.