Impulse Buying, Perilaku Konsumsi Berlebihan yang Merugikan

Share this Post

impulse buying

Table of Contents

Kemudahan belanja offline atau pun online saat ini memang sangat membantu kamu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, jangan sampai kamu terjebak impulse buying atau impulsive buying.

Melansir laman Shopify, impulse buying adalah pembelian suatu produk secara tiba-tiba dan segera tanpa niat sebelum berbelanja. Hal ini terjadi setelah kamu mengalami dorongan untuk membeli, dan seringkali spontan tanpa ragu-ragu.

Entah itu berbelanja di toko fisik atau online, pembelian secara impulsif ini sering kali tidak dapat dihindari dan terjadi secara mendadak tanpa banyak proses berpikir sebelumnya.

Jika tidak dikontrol dengan baik, maka tentunya perilaku impulse buying bisa menimbulkan masalah bagi kamu.

Baca Juga: Pengertian Financial Freedom dan 5 Cara Mencapainya

Tanda Perilaku Impulse Buying

tanda impulse buying
(Foto shopping bag. Sumber: Pixabay.com)

Bagi kamu yang seringkali tidak sadar telah melakukan pembelian secara impulsif, sebaiknya mengenali tanda-tandanya di bawah ini:

1. Buat Aktivitas Belanja Jadi Pelarian

Salah satu tanda perilaku impulsive buying yaitu kamu sering menjadikan kegiatan berbelanja sebagai pelarian. Jadi ketika mengalami masalah yang membuat hati tidak tenang atau sedih, kamu memilih untuk pergi belanja. Padahal, barang yang dibeli belum tentu dibutuhkan.

Ketika dilakukan terlalu sering, tentu saja aktivitas seperti ini bisa membuat kamu dalam posisi berbahaya. Kamu dapat kecanduan belanja, lebih mementingkan keinginan daripada kebutuhan, sehingga pada akhirnya terjebak dalam perilaku konsumerisme.

2. Membuat Keputusan Pembelian Tanpa Berpikir

Tanda perilaku impulse buying selanjutnya yaitu ketika kamu membuat keputusan pembelian tanpa berpikir panjang terlebih dahulu.

Saat melihat penawaran menarik dari brand, kamu terdorong untuk segera membelinya. Padahal, barang tersebut bukan hal yang kamu benar-benar butuhkan.

Perilaku belanja yang dilakukan secara tidak sadar ini pun akhirnya menyebabkan rasa penyesalan karena kamu hanya mengikuti nafsu sesaat.

3. Berbelanja untuk Bersaing

Pernahkah kamu membeli suatu barang karena merasa iri dengan orang lain yang lebih dulu memilikinya padahal tidak benar-benar membutuhkannya? Jika iya, tandanya kamu telah melakukan impulsive buying.

Perasaan ingin bersaing dengan orang lain yang menggebu-gebu ini pun bisa menyebabkan kamu untuk terus-menerus menghamburkan uang.

Sebenarnya, tidak salah apabila kamu mendapatkan inspirasi dari orang lain. Namun, pastikan produk milik orang lain yang kamu inginkan tersebut membawa manfaat jelas.

Jangan sampai ego membuat kamu sulit menahan diri dan menjerumuskan kepada perilaku yang merugikan.

4. Kondisi Keuangan Terancam

Ketika kamu berbelanja secara spontan berulang kali, bukan tidak mungkin hal ini menganggu kondisi keuangan.

Nah, saat kebiasaan belanja sudah tidak terkontrol dan menyebabkan ketidakstabilan finansial pribadi, tandanya kamu terjebak impulsive buying.

Jika sudah demikian, segeralah untuk berbenah diri. Jangan sampai kamu besar pasak daripada tiang.

5. Merasa Memiliki Banyak Barang

Tanda-tanda perilaku impulse buying selanjutnya ialah kamu merasa memiliki terlalu banyak barang. Padahal jika ditelaah, tidak semua barang yang kamu beli itu terpakai.

Apabila sudah seperti ini, kamu perlu sadar diri dan berusaha untuk terlepas dari kebiasaan impulsive buying.

Sebab, barang-barang yang menumpuk akan menjadi mubadzir karena tidak digunakan dengan baik.

Baca Juga: Awas! Ini 3 Risiko Pinjaman Online Jika Gagal Bayar

Faktor yang Menyebabkan Impulse Buying

penyebab impulse buying
(Foto keranjang belanja. Sumber: Pixabay.com)

Lantas, apa saja yang bisa menyebabkan kamu melakukan pembelian secara impulsif? Faktornya sangatlah banyak, di antaranya:

1. Kemudahan Belanja Online

Salah satu faktor yang menyebabkan seseorang mengalami impulse buying ialah adanya kemudahan dalam berbelanja online.

Meskipun sebenarnya impulse buying bisa terjadi di toko fisik maupun online, akan tetapi platform belanja online memiliki peran yang paling besar.

Beragam kemudahan yang ditawarkan oleh platform belanja online ini seringkali membuat kamu membeli sesuatu tanpa berpikir panjang. Padahal, tidak semua produk yang dijual secara online merupakan hal yang kamu butuhkan.

2. Emosi Sesaat

Faktor lain yang dapat memicu perilaku impulsif saat berbelanja yaitu kondisi emosional dalam diri.

Ketika kamu berpikir bahwa aktivitas belanja bisa memberikan kepuasan sesaat, itu tandanya kamu telah melakukan pembelian secara impulsif.

Padahal jika ditelisik lebih lanjut, rasa puas usai membeli produk tersebut hanya berlangsung sementara. Jadi, pemanfaatannya tidak maksimal karena memang bukan hal yang benar-benar kamu butuhkan.

Melansir Shopify, saat kita merasakan gejolak emosi, seperti stres, kecemasan, atau kegembiraan, biasanya akan lebih sulit untuk membuat keputusan pembelian yang rasional.

3. Penawaran yang Menggiurkan

Ketika ada penawaran menarik dari sebuah brand, seperti potongan harga, cashback, atau promo gratis ongkir, wajar bagi kamu untuk tertarik.

Namun kembali lagi kepada diri kita, apakah bisa menahan godaan tersebut? Jika aktivitas pembelian terjadi hanya karena tergiur promo, dapat dipastikan bahwa kamu mengalami impulse buying.

Baca Juga: Zero Food Waste, Aksi Nyata Wujudkan Kepedulian Lingkungan

Dampak Kebiasan Impulse Buying

dampak impulse buying
(Foto dompet kosong. Sumber: Pexels.com)

Tentunya, perilaku pembelian yang dilakukan secara impulsif dan berlangsung selama terus-menerus ini bisa memiliki dampak buruk bagi kamu.

Ini dia beberapa efek dari kebiasaan impulsive buying yang perlu kamu waspadai:

1. Timbul Rasa Penyesalan

Ketika kamu melakukan pembelian secara impulsif, tentunya akan timbul rasa penyesalan di akhir. Hal ini karena kamu menyadari bahwa produk yang dibeli ternyata bukan sesuatu kebutuhan.

Apalagi ketika produk yang dibeli hanya didasarkan pada keputusan sesaat karena emosi. Biasanya, penyesalan yang dirasakan akan jauh lebih besar.

2. Kondisi Finansial Terganggu

Kebiasaan berbelanja barang-barang yang tidak terlalu penting tentunya bisa memengaruhi kondisi keuangan pribadi kamu.

Kamu pun akan memiliki pengeluaran yang jauh lebih besar daripada pendapatan. Akibatnya, kamu akan lebih sulit untuk mempunyai tabungan.

Padahal, menyimpan aset merupakan hal yang penting untuk jaminan hidup di masa depan.

3. Kebiasaan Berhutang

Ketika kamu sudah tidak memiliki uang untuk belanja, bukan tidak mungkin bagimu untuk berhutang.

Apalagi di zaman yang serba canggih seperti saat ini, proses pinjam-meminjam uang sangatlah mudah untuk dilakukan. Misalnya dengan aplikasi pinjaman online, sistem paylater yang ditawarkan e-commerce, hingga kartu kredit.

Kebiasaan pembelian impulsif yang tidak dapat dibendung ini pun bisa mendorong kamu untuk terbiasa berhutang. Pada akhirnya, hutang terus menumpuk dan kamu kesulitan membayarnya.

4. Sulit Menentukan Prioritas

Perilaku impulse buying yang sulit dikendalikan juga bisa menyebabkan kamu tidak bisa menentukan prioritas antara kebutuhan dengan keinginan.

Tentu saja, hal ini sangat berbahaya karena kamu akan terjebak untuk melakukan pembelian barang-barang tidak berguna. Pada akhirnya, barang tersebut menumpuk dan tidak terpakai begitu saja.

Baca Juga: 10 Cara Menjalani Frugal Living, Berikut Manfaatnya

Cara Menghentikan Perilaku Impulse Buying

cara berhenti impulse buying
(Foto catatan belanja. Sumber: Pexels.com)

Lantas, bagaimana cara mengehentikan perilaku impulse buying ini? Kamu tidak bisa lepas dari kebiasaan ini secara instan. Ada proses yang cukup panjang agar benar-benar berhenti melakukan pembelian secara impulsif.

Beberapa cara yang cukup efektif untuk menghentikan kamu dari perilaku tidak baik ini meliputi:

1. Tetapkan Anggaran dan Patuhi Itu

Cara pertama yang bisa kamu lakukan ialah dengan menetapkan anggaran belanja. Coba tentukan berapa banyak jumlah uang yang dapat kamu belanjakan.

Anggaran ini dibuat untuk membantu kamu tetap ‘on track’. Jadi, kamu tidak akan melakukan pembelian secara spontan terhadap barang-barang yang kurang dibutuhkan.

Kamu bisa menentukan anggaran setiap kali menerima gaji atau pemasukan lain, sehingga lebih mudah mengelolanya selama satu periode ke depan.

Ingat ya, anggaran yang kamu buat harus selalu dipatuhi. Jangan sampai kamu membuatnya sia-sia.

2. Berpikir Panjang Sebelum Membeli

Perilaku impulsif saat berbelanja biasanya datang secara tiba-tiba dan dilakukan secara spontan. Nah, untuk menghindarinya, cobalah untuk membuat keputusan belanja secara jernih.

Cobalah untuk berpikir panjang sebelum membayar barang yang kamu inginkan. Cari tahu dahulu apakah kamu benar-benar membutuhkannya atau tidak.

Dalam hal ini, kamu juga bisa coba menahan diri selama beberapa hari sebelum benar-benar membelinya. Jangan sampai perasaan ingin memiliki yang muncul sesaat dan menggebu-gebu membuat kamu menyesal di kemudian hari.

3. Buat Perencanaan Belanja

Ketika pergi berbelanja, usahakan untuk selalu membuat perencanaan untuk dapat terhindar dari perilaku impulse buying.

Dalam hal ini, kamu dapat membuat daftar belanja di buku catatan atau handphone. Jadi, kamu hanya akan membeli barang-barang yang ada di dalam daftar.

Perencanaan belanja yang kamu buat bisa membantumu untuk hanya berfokus pada barang-barang kebutuhan, bukan keinginan. Dengan begitu, pengeluaran kamu akan lebih bertanggungjawab.

Membuat daftar belanja sebelum pergi ke toko juga akan menghemat waktu kamu selama membeli produk, lho.

4. Hindari Belanja saat Emosi

Salah satu faktor yang bisa menyebabkan seseorang melakukan impulse buying adalah emosi. Oleh karena itu, pastikan kamu tidak berbelanja ketika dalam kondisi emosi.

Hindari kegiatan belanja saat kamu merasa stres, sedih, lelah, lapar, atau mabuk. Pasalnya, emosi ini bisa memengaruhi kamu dalam membuat keputusan pembelian.

Meskipun perasaan negatif tersebut bisa hilang sesaat setelah kamu berbelanja (shopping therapy), akan tetapi efeknya hanya berlangsung sementara.

Bukan tidak mungkin bagi kamu untuk merasakan penyesalan akibat aktivitas belanja yang kurang dipertimbangkan. Parahnya, kamu mungkin saja akan merasa lebih stres saat melihat jumlah pengeluaran.

Belum lagi, adanya risiko kecanduan yang timbul akibat perasaan senang atau lega sesaat usai berbelanja selama sedang emosi.

Ke depannya, kamu bisa saja kembali lagi pergi berbelanja untuk meredakan emosi negatif yang dirasakan. Padahal, ada banyak pilihan aktivitas lain yang bisa meredakannya selain belanja.

Jadi, cobalah untuk tidak berbelanja ketika kondisi emosi dalam diri kamu tidak stabil agar terhindar dari perilaku impulsive buying.

Baca Juga: Kamu Terlalu Boros? Ini 6 Cara Mengatasi Perilaku Konsumtif

Itu dia penjelasan seputar impulse buying yang perlu kamu pahami. Semoga kita semua bisa terhindar dari kebiasaan buruk ini, ya.

Saatnya Buka Toko Online Sendiri!

Saatnya Punya Toko Online Sendiri !